oleh

Pelaksanaan Program ICBRR di Bengkulu, di nilai Berhasil


Bengkulu-bengkuluone.co.id, Pelaksanaan program Integrated Comunity Based Risk Reduction (ICBRR), antara Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Bengkulu dengan Japanese Red Cross Society (JRCS), yang tengah berjalan 2 tahun dinilai berhasil, dalam pengurangan resiko bencana di tiga wilayah dalam Provinsi Bengkulu, tepatnya di Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Kaur.

Ketua Bidang Penanggulangan Bencana PMI Pusat Letjend TNI (Purn) Sumarsono dalam ramah tamah dengan JRCS, PMI dan Pemerintah Provinsi Bengkulu di Bengkulu menyatakan, diketahui potensi bencana di Bengkulu adalah gempa bumi, tsunami, banjir dan longsor. Sehingga pelaksanaan program kerjasama yang berakhir pada April 2020 mendatang, diharapkan tidak mengalami hambatan, karena dari infrastruktur kebencanaan di Bengkulu juga dinilai bagus.

“Jika memang program ini tidak berlanjut, hasil yang diperoleh bisa ditularkan untuk daerah kabupaten yang belum mendapatkan program kerjasama ini. Pasalnya apabila tidak di bina, diyakini tidak akan ada hasilnya dalam upaya antisipasi, di saat dan ketika recovery bencana,” katanya, Jumat, (19/1/2018).

Sementara itu, Perwakilan dari JRCS Yoshiteru Tsuji menjelaskan, pelaksanaan kerjasama di Bengkulu ini, karena kesamaan dalam kejadian bencana di Jepang.

Untuk itu dengan kerjasama ini diharapkan, bukan hanya terfokus untuk tiga daerah, tetapi juga seluruh wilayah kabupaten dalam provinsi Bengkulu mengetahui upaya pengurangan resiko bencana, terutama keterlibatan partisipasi masyarakat dan stek holder terkait, terhadap kegiatan yang akan dilakukannya.

“Kegiatan yang dilakukan di Bengkulu berupa, mitigasi struktural dan non struktural seperti infrastruktur dan lain sebagainya,” jelasnya.
Disamping itu, Asisten II Sekda Provinsi Bengkulu Yuliswani mengapresiasi atas kerjasama dalam rangka mengurangi resiko bencana terhadap masyarakat Bengkulu. Harapannya kerjasama yang telah berjalan 2 tahun ini dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Sehingga dapat meningkatkan ketahanan dalam resiko terhadap terjadinya bencana.
“Harapan kita kegiatan ini bisa diikuti oleh seluruh masyarakat se Bengkulu ini, karena diketahui ada 7 kabupaten dan kota yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia dinilai rawan terjadinya bencana khususnya tsunami,” tukasnya.(red-2)

Komentar