oleh

Kembali Diterpa Dugaan Nepotisme, Satu Honorer Diduga ‘Titipan’ Rohidin Ngantor Dadakan di KIP

Honorer-bengkuluone.co.id, Belum selesai tuntutan FAKAM meminta caretaker walikota Bengkulu diganti karena disinyalir berbau nepotisme, kembali dugaan nepotisme menyangkut Plt. Gubernur Rohidin Mersyah. Pasalnya salah seorang┬átenaga honorer tiba-tiba ‘ngantor’ di Komisi Informasi Provinsi Bengkulu, Jumat (26/1/2018) diduga mencatut nama Rohidin Mersyah.

“Honorer itu tiba-tiba datang ke kantor, meminta kunci, padahal belum ada pemberitahuan sebelumnya,” sebut salah satu honorer di kantor KIP sambil meminta namanya tidak disebutkan.

Ditambahkan honorer itu, tenaga honorer baru itu mengaku diangkat menjadi honorer setelah menghadap kepada Plt Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah. “Dia mengaku awalnya menghadap Pak Rohidin Mersyah, kemudian dia disuruh ke Dinas Kominfo, karena di dinas itu menerima honorer,” sebutnya lagi.

Ketua Komisi Informasi Provinsi Bengkulu Ifsyanusi saat dikonfirmasi membenarkan adanya tenaga honorer baru dikantornya. “Iya benar ada, tenaga honorer baru 3 orang menggantikan 3 honorer lama yang dirumahkan. Namun kami belum mendapat pemberitahuan sebelumnya jika akan ada honorer baru, tiba-tiba datang honorer baru yang mengaku ditugaskan dikantor ini, kami akan koordinasikan dengan pak kadis dulu, jangan dulu berburuk sangka,” kata Ifsyanusi.

Namun demikian, Ifsyanusi mengaku sudah ada pemberitahuan awal dari pihak dinas yang akan merumahkan empat honorer di kantornya. “Awalnya sudah ada surat pemberitahuan akan ada ‘perumahan’ empat honorer di KIP, namun kami meminta untuk tetap dipertahankan empat honorer dikantor in, sebab kami sangat membutuhkan tenaga honorer, terlebih loyalitas mereka sudah teruji, empat honorer dikantor kami sebelumnya rela gajinya dirapel lima bulan karena uang belum cair, mereka tetap kerja rajin, dari sisi pekerjaan juga mereka sudah menguasainya, jika honorer diganti yang baru kami harus melatihnya lagi,” terang Ifsyanusi.

Sementara dari empat honorer di KIP, tiga diantaranya telah dirumahkan. “Kami sedih, kalau kami dirumahkan karena tidak ada anggaran kami terima, tapi ternyata kami diganti dengan honorer baru, padahal kami tidak memiliki catatan kinerja buruk, kami baik-baik saja selama bekerja di kantor ini, mau mengadu kemana kami, hanya pasrah itulah,” ujar Jemi, salah satu honorer yang dirumahkan alias diberhentikan. (red)

 

Komentar